Event Countdown
Semua bermula di sebuah ruang kelas delapan pada tahun 2012. Saat itu, dunia kami masih sesederhana seragam putih-biru. Tidak ada yang menyangka bahwa tawa di sela pelajaran dan obrolan di bangku sekolah akan menjadi benih dari sebuah perjalanan panjang yang melintasi waktu.
Namun, semesta punya cara sendiri untuk menguji. Di semester kedua, tanpa sempat mengucap pamit yang layak, AL harus pindah ke Tangerang. Hanya satu kalimat yang menjadi pegangan kita saat itu: sebuah pernyataan cinta yang tulus, yang kemudian harus dipisahkan oleh jarak ratusan kilometer.
Tahun-tahun berlalu dengan Kuningan dan Tangerang yang terasa begitu jauh. Kami tumbuh di kota yang berbeda, namun diam-diam mata kami masih sering mencari di balik layar ponsel. Lewat media sosial, kita saling memantau kabar tanpa berani menyapa, menjaga rasa yang tak pernah benar-benar padam.
Hingga saat duduk di bangku kelas satu SMA tepatnya 2014, sebuah keberanian muncul. Kabar tentang kepulangan AL menjadi jembatan Yun untuk sekadar bertanya, “Masih ingatkah?” Ternyata, waktu tidak menghapus apa pun. Komunikasi kembali intens, dan kami menyadari satu hal yang unik: meski raga menjauh, tidak pernah ada kata putus yang benar-benar terucap sejak SMP. Kami masih milik satu sama lain.
Perjalanan LDR selama belasan tahun tentu tidak selalu indah. Badai datang silih berganti dan hubungan kami sering kali goyah. Puncaknya terjadi tepat di penghujung tahun, pada 31 Desember 2020. Malam itu, kami benar-benar menyudahi semuanya.
Yun mengira itu adalah akhir dari segalanya. Kami melanjutkan hidup masing-masing, mencoba membuka hati untuk orang lain, dan percaya bahwa kisah kami telah menjadi sejarah yang tertinggal di masa lalu.
Tahun 2022, AL kembali mencoba mengetuk pintu hati lewat pesan-pesan yang tak pernah Yun respon. Hingga akhirnya di bulan Oktober 2024, takdir membawa kita pada satu pertemuan yang niat awalnya adalah untuk “berpamitan terakhir kali”.
Namun, di detik mata kami kembali bertemu, segala logika runtuh. Kami sadar bahwa tidak ada tempat yang lebih nyaman selain di samping satu sama lain. Pertemuan yang tadinya dianggap sebagai penutup, justru menjadi gerbang pembuka menuju pelaminan.
Setelah menempuh ribuan kilometer, melewati banyak musim, dan sempat terasing selama empat tahun sejak perpisahan di akhir 2020 itu, akhirnya kami sampai di titik ini. Kami adalah cinta pertama yang sempat hilang, dan kini menjadi cinta terakhir tempat untuk pulang. Dari bangku kelas 8 SMP siapa sangka, cinta pertama di masa sekolah kini resmi menjadi cinta terakhir di pelaminan. Setelah 14 tahun penuh liku, kami akhirnya memutuskan untuk menetap dalam satu janji suci selamanya. sejauh apa pun kami pergi, cinta pertama akan selalu tahu jalan untuk kembali.
Berikan Doa / Ucapan Terbaik Anda Kepada Kedua Mempelai