Berawal dari ruang kelas yang sama, takdir mempertemukan kami sebagai teman biasa. Di antara tawa canda tugas sekolah dan jam istirahat, benih-benih ketulusan itu perlahan tumbuh tanpa kami sadari.
Waktu berjalan dan membawa kami pada babak baru. Hubungan asmara terajut, diwarnai dinamika remaja—putus dan nyambung—yang justru menguji kesabaran, kedewasaan, dan seberapa besar arti kehadiran masing-masing dalam hidup kami.
Setelah melewati berbagai liku dan pendewasaan diri, keyakinan itu akhirnya menemukan rumahnya. Di tahun ini, sebuah komitmen suci diikrarkan melalui ikatan lamaran, menyatukan dua hati untuk melangkah ke tujuan yang sama.
Dan kini, di sinilah kami. Dengan restu Sang Pencipta dan doa dari keluarga tercinta, kami siap mengarungi sisa hidup bersama sebagai sepasang suami istri.