Bukan karena kebetulan, melainkan karena takdir yang bekerja diam-diam.
Ia mempertemukan kami, memisahkan sejenak, lalu menyatukan kembali di waktu yang paling indah.
Kami dipertemukan bukan dalam rencana besar,
hanya di sela kesibukan sebuah hari biasa.
Aku datang untuk tugas kuliah,
dia hadir sebagai talent.
Tak banyak kata, tak ada janji,
hanya satu kalimat sederhana:
“Terima kasih sudah membantu.”
Dari ucapan kecil itu,
semesta mulai menulis cerita kami.
Hari-hari berjalan tanpa rencana,
namun rasa tumbuh perlahan.
Kami belajar tentang sabar, memaafkan,
dan menjaga hati
meski jarak sempat memisahkan.
Kami pernah berhenti,
bahkan sempat mengira ini akhirnya.
Namun semesta belum selesai menulis kisah ini.
Ketika waktu kembali mempertemukan kami,
bukan sebagai dua orang yang sama,
melainkan dua hati yang telah belajar untuk lebih dewasa.
Kini kami berdiri di titik
yang dulu hanya menjadi harapan.
Bukan karena perjalanan kami sempurna,
melainkan karena kami terus memilih satu sama lain—
bahkan saat keadaan tidak selalu mudah.
Kami percaya,
cinta sejati tak datang tergesa.
Ia tumbuh perlahan,
dijaga doa, disiram sabar,
dan dipeluk oleh waktu.
Semoga langkah yang kami ambil hari ini
menjadi awal dari perjalanan panjang
yang penuh tawa, doa, dan ketenangan.
Sebab ketika semesta telah menuliskan
dua nama dalam satu garis,
tak ada yang benar-benar bisa memisahkan—
hanya menunda hingga waktu terindah
datang untuk mempertemukan kembali. 💍